Jihad = Perang?


Jihad ( جهاد ) adalah berjuang dengan sungguh-sungguh menurut syariat Islam.
Jihad dilaksanakan untuk menjalankan misi utama manusia yaitu menegakkan Din Allah atau menjaga Din tetap tegak, dengan cara-cara sesuai dengan garis perjuangan para Rasul dan Al-Quran. Jihad yang dilaksanakan Rasul adalah berdakwah agar manusia meninggalkan kemusyrikan dan kembali kepada aturan Allah, menyucikan qalbu, memberikan pengajaran kepada ummat dan mendidik manusia agar sesuai dengan tujuan penciptaan mereka yaitu menjadi khalifah Allah di bumi.
Arti kata Jihad sering disalahpahami oleh yang tidak mengenal prinsip-prinsip Din Islam sebagai 'perang suci' (holy war); istilah untuk perang adalah Qital, bukan Jihad.
Jihad dalam bentuk perang dilaksanakan jika terjadi fitnah yang membahayakan eksistensi ummat (antara lain berupa serangan-serangan dari luar).
Pada dasar kata arti jihad adalah "berjuang" atau "ber-usaha dengan keras" , namun bukan harus berarti "perang dalam makna "fisik" . jika sekarang jihad lebih sering diartikan sebagai "perjuangan untuk agama", itu tidak harus berarti perjuangan fisik.
Jika mengartikan Jihad sebagai "perjuangan membela agama" , maka lebih tepat bahwa ber-Jihad adalah : "perjuangan menegakkan syariat Islam" . Sehingga berjihad harus -lah dilakukan setiap saat , 24 jam sehari , sepanjang tahun , seumur hidup .
Pelaksanaan jihad dapat dirumuskan sebagai berikut:
  • Pada konteks diri pribadi, jihad berusaha membersihkan pikiran dari pengaruh-pengaruh ajaran selain Allah dengan perjuangan spiritual di dalam diri, mengerjakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
  • Komunitas jihad berusaha agar Din pada masyarakat sekitar maupun keluarga tetap tegak dengan dakwah dan membersihkan mereka dari kemusyrikan.
  • Kedaulatan jihad berusaha menjaga eksistensi kedaulatan dari serangan luar, maupun pengkhianatan dari dalam agar ketertiban dan ketenangan beribadah pada rakyat di daulah tersebut tetap terjaga termasuk di dalamnya pelaksanaan Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Jihad ini hanya berlaku pada daulah yang menggunakan Din Islam secara menyeluruh (Kaffah).

Rumus kontribusi


Jawablah pertanyaan ini kemudian mawaslah diri !!
1.   Andai aku tiada, orang-orang di sekitarku akan menangis karena orang yang berharga bagi mereka telah pergi atau justru tersenyum girang karena si biang kerok dan pembuat masalah telah tiada?
2.  Andai aku tiada, adakah perbedaan yang berarti di dalam kehidupan masyarakat?
3.  Andai aku tiada, kehidupan di sekitaku akan semakin baik atau berubah menjadi buruk?
4.  Andai aku tiada, beapa orang yang akan terpengaruh kehidupannya?
5.  Andai aku tiada, apa yang dikatakan semua manusia di depan nisanku?
6.  Andai aku tiada, aku dikenang sebagai orang baik atau buruk?
7.  Andai aku tiada, adakah yang akan mendoakanku?
8.  Andai aku tiada, berapa banyak karyaku yang masih bisa dinikmati oleh manusia?
9.  Andai aku tiada, seberapa besar dosaku yang masih disimpan di lubuk hati sesama?
10.Andai aku tiada, adakah orang yang masih menyimpan dendam di hatinya atas kezalimanku?
11. Andai aku tiada, bagaimana kehidupan keluargaku, kampungku, bangsaku?

Ketika datang kesempatan berbuat baik, tanyakan pada diri, “kalau tidak sekarang, kapan lagi? Kalau bukan aku, siapa lagi?”
_Ahmad Rifa’i Rif’an_

Prinsip DUIT


1. Prinsip D – Do’a

Dalam sehari kita diajarkan untuk berdoa minimal 5 waktu. Setiap niat, ucapan dan gerakan dalam shalat menganut unsur do’a, karena justeru dalam shalatnya kekhusuan komunikasi dengan Sang Maha Pencipta Allah SWT dapat dilangsungkan dengan sebaik-baiknya komunikasi. Inna shalati, wanusuki, mawahyaya, wamamati lillahirobbil ‘alaamiin (Sesungguhnya shalat kita, ibadah kita, hidup kita dan mati kita hanya milik Allah Tuhan seru sekalian alam). Dan, janganlah pernah kita bosan meminta dan bermunajat kepada Allah, karena hanya Allah yang patut disembah dan hanya kepada Allah kita meminta pertolongan. Selain itu, Allah telah berjanji dalam firman-Nya yang mengatakan bahwa Allah akan menjamin setiap permohonan dan munajat yang dilakukan hamba-Nya yang ditujukan atau dimintakan kepada Allah SWT dengan bersungguh-sungguh dan sebaik-baiknya permohonan.

2. Prinsip U – Usaha
 
Allah SWT telah menjatah dan membagi secara proporsional dan adil tentang setiap urusan hamba-hamba-Nya. Nah, di dalam setiap urusan itu, ada yang namanya pekerjaan sesuai bidangnya, seperti penelitian, pendidikan, pengabdian, perikanan, pertanian, PNS, swasta dan sebagainya. Urusan ini wajib hukum di-maintain secara baik agar dapat menjadi berkah, rahmat dan nikmat bagi kita semua.

3. Prinsip I – Ikhtiar

Prinsip ketiga adalah “I”, yaitu IKHTIAR. Setiap urusan yang diamanatkan Allah SWT untuk dijalankan oleh kita sebagai HAMBA-NYA yang DHOIF tentu memerlukan upaya yang optimal dengan harapan bahwa output yang dihasilkan akibat adanya proses IKHTIAR terhadap USAHA yang dijalankan dapat memberikan sebesar-besarnya manfaat, termasuk untuk kita sendiri.

4. Prinsip T -Tawakal

Dalam hal ini, terdapat unsur ikhlas yang mewarnai sifat tawakal, yaitu bagaimana sesungguhnya kita harus bersyukur atas segenap nikmat yang diberikan, baik nikmat sehat, iman, islam maupun nikmat materi yang telah diberikan. QS. Ibrahim ayat (7) menyatakan bahwa barangsiapa bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah, maka niscaya Allah akan menambah nikmat tersebut dan barangsiapa “kufur” atau tidak mensyukuri nikmat, maka sesungguhnya ADZAB ALLAH itu sangat pedih. Selain syukur, maka sabar juga menjadi salah satu yang harus dimiliki untuk mencapai tatanan ikhlas dalam konteks tawakal ini. Karena justeru SABAR adalah penolong yang paling mujarab bagi kita untuk tidak terjerumus ke dalam kekufuran (tidak bersyukur) dan kekafiran (aral atau keputusasaan). Allah SWT berfirman : ista’inu bishshobri washshalat (jadikan sabar dan shalat sebagai penolong kamu).

Percaya Pada Tuhanku Alloh SWT.


*Setiap masalah ada jalan keluarnya. Kamu mungkin tak melihatnya, namun Tuhan tahu jalan keluarnya. Yakin dan percayalah padaNya.
*Kau membutuhkan, Tuhan tahu. Kau meminta, Tuhan mendengarkan. Kau percaya, Tuhan bekerja. Kau bersyukur, Tuhan melimpahkan.
*Ketika Tuhan menjawab doamu, kamu percaya pada kemampuanNya. Ketika Tuhan tak menjawab doamu, Tuhan percaya pada kemampuanmu.
*Hidup tak pernah lepas dari masalah, karena masalah adalah salah satu cara Tuhan menjadikanmu pribadi yg lebih kuat dan dewasa.
*Ketika kamu hancur dan tak ada harapan, Tuhan bersedia untuk membantu dan menguatkanmu. Masih ada Tuhan.
*Ketika kamu berhenti mengejar apa yang bukan untukmu, maka Tuhan akan mempertemukan kamu dengan apa yang baik untukmu.
*Percaya pada Tuhan, bukan karena itu sebuah keharusan, tapi karna Dia tau yg terbaik untukmu.
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, (jawablah) bahwa Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku," (QS Al-Baqarah :186).

JUJUR >< DUSTA


Jujur bermakna keselarasan antara berita dengan kenyataan yang ada. Jadi, kalau suatu berita sesuai dengan keadaan yang ada, maka dikatakan benar/jujur, tetapi kalau tidak, maka dikatakan dusta.
Jujur merupakan sifat yang terpuji. Allah menyanjung orang-orang yang mempunyai sifat jujur dan menjanjikan balasan yang berlimpah untuk mereka. Termasuk dalam jujur adalah jujur kepada Allah, jujur dengan sesama dan jujur kepada diri sendiri.
 Kejujuran itu ada pada ucapan, juga ada pada perbuatan, sebagaimana seorang yang melakukan suatu perbuatan, tentu sesuai dengan yang ada pada batinnya. Seorang yang berbuat riya’ tidaklah dikatakan sebagai seorang yang jujur karena dia telah menampakkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang dia sembunyikan (di dalam batinnya).
 Demikian juga seorang munafik tidaklah dikatakan sebagai seorang yang jujur karena dia menampakkan dirinya sebagai seorang yang bertauhid, padahal sebaliknya. Hal yang sama berlaku juga pada pelaku bid’ah; secara lahiriah tampak sebagai seorang pengikut Nabi, tetapi hakikatnya dia menyelisihi beliau. Yang jelas, kejujuran merupakan sifat seorang yang beriman, sedangkan lawannya, dusta, merupakan sifat orang yang munafik.
Imam Ibnul Qayyim berkata, Iman asasnya adalah kejujuran (kebenaran) dan nifaq asasnya adalah kedustaan. Maka, tidak akan pernah bertemu antara kedustaan dan keimanan melainkan akan saling bertentangan satu sama lain. Allah mengabarkan bahwa tidak ada yang bermanfaat bagi seorang hamba dan yang mampu menyelamatkannya dari azab, kecuali kejujurannya (kebenarannya).
Allah berfirman,
 “Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. az-Zumar: 33)
Sebagaimana yang terdapat dalam hadits yang shahih bahwa Nabi bersabda,
“Senantiasalah kalian jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebajikan, dan kebajikan membawa kepada surga. Seseorang yang senantiasa jujur dan berusaha untuk selalu jujur, akhirnya ditulis di sisi Allah sebagai seorang yang selalu jujur. Dan jauhilah kedustaan karena kedustaan itu membawa kepada kemaksiatan, dan kemaksiatan membawa ke neraka. Seseorang yang senantiasa berdusta dan selalu berdusta, hingga akhirnya ditulis di sisi Allah sebagai seorang pendusta.”
Lawan dari jujur adalah dusta. Dan dusta termasuk dosa besar, sebagaimana firman Allah,
“Kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” (QS. Ali Imran: 61)
Dusta merupakan tanda dari kemunafikan sebagaimana yang disebutkan dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda,
“Tanda-tanda orang munafik ada tiga perkara, yaitu apabila berbicara dia dusta, apabila berjanji dia mungkiri dan apabila diberi amanah dia mengkhianati.” (HR. Bukhari, Kitab-Iman: 32)
Kedustaan akan mengantarkan kepada kemaksiatan, dan kemaksiatan akan menjerumuskan ke dalam neraka. Bahaya kedustaan sangatlah besar, dan siksa yang diakibatkannya amatlah dahsyat, maka wajib bagi kita untuk selalu jujur dalam ucapan, perbuatan, dan muamalah kita. Dengan demikian jika kita senantiasa menjauhi kedustaan, niscaya kita akan mendapatkan pahala sebagai orang-orang yang jujur dan selamat dari siksa para pendusta. Waallahu A’lam.
“Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah dan mendustakan kebenaran ketika datang kepadanya? Bukankah di neraka Jahannam tersedia tempat tinggal bagi orang-orang yang kafir? Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa. Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki pada sisi Tuhan mereka. Demikianlah balasan orang-orang yang berbuat baik, agar Allah akan menutupi (mengampuni) bagi mereka perbuatan yang paling buruk yang mereka kerjakan dan membalas mereka dengan upah yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. az-Zumar: 32-35)



    Pengikut