Cara Menang Dengan “MENGALAH”


Di medan persaingan, tidak ada seorang pun yang ingin kalah, menang sudah menjadi tujuan. Berbagai upaya ditempuh untuk mewujudkan tujuan itu. Ketika segala cara sudah dihalalkan untuk meraihnya, mengalah  bisa menjadi cara untuk menang.

Mengalah tidak sama dengan kalah. Mengalah bisa disebut pura-pura kalah atau bisa dibilang sengaja kalah.  Mengalah tidak sama dengan menyalahkan diri kita yang benar atau membenarkan orang yang berbuat salah. Bukan! Mengalah juga bukan membiarkan kesalahan orang lain. Sifat mengalah adalah “senjata” yang baik untuk berdamai. Mengalah adalah strategi awal untuk menyatakan kebenaran.  Pintu untuk menyadarkan kesalahan sahabat/ kerabat kita yang dengannya kita konflik.

Mengalah menempatkan “lawan” kita berada di tempat yang lebih penting dari kita. Menjadikan dia lebih utama lebih dari kita (VIP). Dengan memberikan respek pada lawan konflik kita, akan membantunya mengurangi perasaan marah. Dalam perselisihan atau salah paham maka yang masih (bisa) berpikir jernih sebaiknya mengalah. Saat mengalah emosi kita biasanya lebih stabil dan terkontrol.
Menang atau kalah adalah perkara biasa. Pemenang kerap dipersepsikan mereka yang menguasai medan. Di sisi lain, kekalahan sering pula dikaitkan dengan nasib; kurang beruntung, apes. Namun, mereka yang berpikir positif dan tidak mengenal putus asa akan mampu mengubah kekalahan itu sebagai awal kemenangan yang sesungguhnya. Sedangkan orang yang memaknai kekalahan sebagai keterpurukan adalah mereka yang tidak berpikir jauh ke depan dan takut melangkah.
Seperti halnya pertandingan, hasil yang didapat adalah pemenang dan yang belum menang. Ada yang bergembira, ada pula yang bersedih. Meski pada kenyataannya, ukuran menang dan kalah tiap orang berbeda. Kegagalan adalah sukses yang tertunda. Namun di sisi lain, kemenangan bukanlah segalanya. Dalam sebuah kemenangan terdapat pula amanah yang harus dipegang teguh.

Menjadi pemenang pun ada etikanya. Memang, mengalahkan musuh adalah hal yang biasa. Namun, menjadi pemenang bagi semua, pemenang yang rendah hati, pemenang yang amanah, niscaya akan membawa pada kemenangan berikutnya. Menang tidak dapat hanya diukur dari gugurnya lawan atau pengakuan secara nyata kepada juara, namun lebih dari itu, unggul adalah ketika mampu menempatkan saingan pada posisi lain, yang ia pun tidak tergesa-gesa memaknai kekalahan sebagai kegagalan. Sudah sewajarnya, setiap upaya untuk melakukan tindakan meraih kemenangan hendaknya dilakukan dengan menggunakan cara-cara yang wajar. Jangan sampai niat baik tidak diimbangi dengan cara yang kurang baik, malah upaya untuk menang ditempuh dengan cara yang curang. Atas hasil tersebut, tentu kemenangan yang diraih bakal cacat; kemenangan yang bukan lagi amanat. Kebenaran tetaplah di atas segalanya. Menang dengan cara licik ternyata bukan kemenangan yang abadi.

Jika kita melirik pada kaitannya dengan agama, Mengalah itu tidak salah dan tidak ada nash yang mengatakan bahwa itu salah. Justru sebaliknya, mengalah dibenarkan dalam agama karena mengalah bersifat tidak merugikan orang lain. Ketika Tuhan membenarkannya, berarti Tuhan berpihak pada kita. Lalu siapa yang akan kita lawan? Itulah pintu kemenangan tanpa melukai orang lain. Mengalah itu dapat membuat pintu untuk menang secara istimewa dan dengan kenangan tak terlupakan. So, santai sajalaaaaah, MENGALAH itu sebenarnya mudah dan hasilnya keren :D. Asal bisa mengendalikanya.  



0 Responses

    Pengikut